Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 23 Februari 2011

Kata pengantar Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Ilahi Robbi karena dengan limpahan taufik dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini kami haturkan banyak terimakasih yang tak terhingga,semoga amal yang baik senantiasa mendapat ridho Alloh SWT.Amin.... Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Kami mohon maaf apabila elum dapat memenuhi harapan teman-teman ataupun ibu bapak guru. Oleh karena itu saran, kritik, serta masukan yang sifatnya membangun sanggat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. Kami berharap makalah ini bermanfaat, khususnya bagi penyusun & umumnya bagi pembaca. Tasikmalaya,23 Feb. 11 Hormat kami Penyusun Hikayat Siti Rahima/ Zen Hae Grahmyrda, Midterm Paper Bercocok tanam, melakukan berbagai pekerjaan rumah, menikah dengan pria yang telah ditentukan oleh orang tua, melahirkan, dan mengurus anak merupakan suatu kodrat bagi wanita, yang diyakini oleh masyarakat Betawi tradisional pada umumnya. Hal-hal di atas lah yang harus dilakukan oleh seorang wanita Betawi agar ia dapat diterima di dalam masyarakatnya. Apabila seorang wanita dianggap melanggar kodratnya, maka wanita itu akan dikucilkan dan dipandang rendah oleh seluruh anggota masyarakat. Demikian pula dengan nasib seorang gadis Betawi bernama Siti Rahima dalam cerita pendek Hikayat Siti Rahima karya Zen Hae yang bertemakan tentang seorang wanita yang harus menempati posisi inferior dalam sebuah struktur masyarakat; baik dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya sebagai akibat dari sistem norma dan kebudayaan yang sudah mendarah daging, namun bagaimanapun seorang wanita tetap bisa bertahan. Siti Rahima adalah seorang gadis betawi yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang dapat terlihat dengan jelas masih memegang teguh sistem patriarki di mana seorang pria memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dari wanita. Suatu ketika Siti Rahima menjalin cinta dengan seorang pemuda petugas pembangunan jalan lingkar. Namun pria yang dicintainya ini adalah seorang pendatang, bukan warga kampung dimana Siti Rahima tinggal, sehingga sang ayah melarang Siti Rahima berhubungan dengan pria itu. Dari hal ini dapat dilihat bahwa ada suatu kekuasaan lebih yang dimiliki sang ayah, sebagai seorang pria, untuk menentukan pasangan hidup bagi anak perempuannya; “lebih baik dengan orang kampung sendiri”(hal 69), kata sang ayah. Sistem yang dianut masyarakat ini menciptakan sebuah posisi inferior yang harus ditempati oleh wanita. Mengapa? Pertama-tama yaitu karena tidak ada kebebasan bagi seorang wanita untuk menentukan pasangan yang benar-benar ia cintai; kemudian seorang wanita dibatasi dan diatur untuk menikah hanya dengan pria dari ruang lingkup tertentu, yaitu yang berasal dari kampungnya sendiri. Dalam keluarga, yang merupakan pranata terkecil dalam masyarakat wanita sudah mengalami suatu alienasi terhadap dirinya, yaitu keterasingan atas kehendaknya sendiri. Siti Rahima sebagai wanita yang berada dalam komunitas masyarakat betawi tidak memiliki kehendak bebas, karena keputusan terhadap apa yang akan atau tidak akan ia lakukan tidak berdasarkan kehendaknya sendiri melainkan diatur oleh sang ayah (pria) yang mempunyai kekuasaan superior. Suatu hari Siti Rahima mengandung, namun kekasihnya pergi entah kemana. Ayahnya begitu murka dan malu hingga mengutuknya, “ Perempuan laknat. Kau telah menodai keluarga dan kampungmu sendiri. Empat puluh rumah pun ikut menanggung dosamu”(hal 69). Sang ayah menamparnya. Lalu ia bersama dengan orang-orang kampung lainnya mengusir Siti Rahima dari kampung; sang ibu hanya bisa menangis. Dari hal ini sekali lagi kita bisa menemukan suatu hubungan kekuasaan hierarkis, yakni ada satu hal/manusia/kelompok tertentu yang merasa memiliki status lebih tinggi dari yang lain; dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pria yang memegang kekuasaan tertinggi. Sang Ayah memiliki hak untuk mengusir Rahima dari rumah karena adanya rasa malu yang muncul dari dalam diri sang ayah. Menurut kebudayaan dan norma agama yang dianut masyarakat betawi saat itu, yang mayoritas memeluk agama Islam, seorang gadis yang hamil di luar pernikahan merupakan suatu perbuatan yang sangat tercela, aib bagi keluarga bahkan menodai seluruh kampung, karena itu sang ayah yang hanya mementingkan reputasinya segera mengusir Rahima. Di lain pihak, sang ibu sebagai wanita dengan posisi inferior dalam masyarakat Betawi saat itu tidak berhak untuk melarang atau mencegah keputusan sang ayah untuk mengusir Rahima dari rumah, sehingga ia hanya bisa menangis karena tidak bisa melakukan apa-apa dan demikian pula dengan Rahima yang hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Ada masalah gender yang terungkap dalam hal ini, yaitu perbedaan antara sifat-sifat feminin dan maskulin. Menurut Betty Friedan,The Second Stage dalam Twentieth-Century Women Novelists (hal 37-38), sifat feminin dan maskulin memiliki dua cara berpikir yang berbeda, yaitu beta untuk feminin dan alpha untuk maskulin. Sang ibu diidentikan dengan cara berpikir beta yaitu synthesizing, intuitive, wanita dinilai lebih mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan. Apabila wanita memiliki kekuasaan yang lebih besar mungkin sang ibu tidak akan mengusir Rahima yang sedang mengandung; sedangkan ayah dengan cara berpikir alpha (analytical, rational,,,) langsung mengusir Rahima karena ia berpikir lebih kepada sebab-akibat yaitu rasa malu yang harus ditanggungnya ketimbang mengandalkan perasaannya terhadap Rahima sebagai anaknya yang sedang hamil. Ditambah lagi cara berpikir maskulin yang percaya akan adanya hubungan kekuasaan hierarkis dalam tubuh masyarakat Betawi saat itu sehingga pada akhirnya maskulinitas (ayah) menang, dan Siti Rahima harus pergi dari rumah. Pada akhirnya Siti Rahima mati dibunuh oleh pria yang telah menghamilinya, namun arwahnya masih mendiami pohon asam di mana ia meninggal, sehingga kemudian sifat feminin Rahima disimbolisasikan ke dalam wujud pohon asam tersebut. Rahima sebagai wanita yang hanya bisa pasrah menerima nasib diperbandingkan dengan sifat pohon asam yang hanya bisa diam dengan akarnya yang menancap di tanah dan hanya bisa diam diperlakukan seperti apapun oleh alam maupun orang-orang di sekitarnya. Namun, Saat ada seorang bocah yang datang berteduh, sifat keibuan yang mencirikan sifat feminin muncul, yaitu sifat yang ingin senantiasa melindungi anaknya. “Tetapi kau, buah hatiku, tidurlah”(hal 71). Walaupun “tubuhku akan dingin, menggigil, meliuk”(hal 71) si pohon diberi sifat feminin yang terus berusaha meneduhkan anaknya meskipun si pohon sendiri harus menderita. Sifat keibuan ini sendiri sebenarnya merupakan suatu hasil dari pemikiran komunitas patriarki di mana ibu adalah orang utama yang harus selalu melindungi dan menjaga anaknya. Pada suatu hari, akhirnya Pohon yang didiami Rahima akan segera ditebang. “Lalu chinsaw menderu. Gigi-gigi besi tajam berputar cepat. ,,, Gigi-gigi besi tajam itu mulai menyentuh dan merobek kulitku. Dagingku yang dulu. Merah. Perih.”(hal 72) Hierarchal relationships of authority kembali muncul. Kali ini chinsaw yang diberikan sifat maskulin yaitu kuat, berkuasa, dan kasar menempatkan posisi yang lebih berkuasa atas si pohon dengan sifat femininnya yang harus berada dalam posisi di bawah, yaitu sebagai yang tersakiti, terluka dan tak berdaya. Setting masyarakat tradisional Betawi serta modernitas yang mulai hadir dan mengancam kebudayaan tradisional (dapat dilihat di dua paragraf pertama, yaitu adanya pembangunan jalan lingkar luar) tersebut juga merupakan salah satu makna atau simbol yang dapat ditarik dari dalam cerpen ini. Pohon Rahima (wanita) yang tertindas menyimbolkan masyarakat tradisional yang mulai tersisihkan/tergusur oleh modernitas (misalnya chinsaw tadi sebagai simbol) sebagai pihak superior yang kuat dan berkuasa. Pohon Rahima (wanita) merupakan pihak yang tersingkirkan (ditebang) sama seperti masyarakat Betawi yang lemah dan mulai tergusur wilayahnya dengan adanya modernitas dan orang-orangnya yang “tamak dan angkuh” (hal 73) yang mulai mengambil lahan masyarakat Betawi untuk dijadikan “jejeran rumah mewah dengan jalan-jalan bercecabang,, di atas hamparan kebun sayur” (hal 73) milik masyarakat Betawi. Namun, keesokan hari setelah Pohon Rahima ditebang, suatu keajaiban yang menggemparkan semua orang terjadi. Si pohon tumbuh kembali sama seperti keadaannya semula. Orang-orang begitu takjub hingga memagari pohon itu bahkan ada yang melemparkan uangnya sebagai tanda hormat atau simpati kepada si pohon. Ada sebuah kekuatan misterius dalam diri si pohon asam sehingga ia bisa tumbuh kembali seperti semula dan dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada hal serupa yang dimiliki oleh seorang wanita. Wanita memiliki sebuah kekuatan misterius; walaupun sudah disakiti, dilukai, dan ditindas, seorang wanita dapat dengan cepat membangun kekuatan baru sehingga ia dapat segera pulih dari lukanya. Walaupun wanita menempati posisi yang rendah dalam struktur masyarakat, pada dasarnya wanita memiliki suatu kekuatan misterius, yaitu ketegaran dan keteguhan hati sehingga dapat terus bertahan menjalani hidupnya seperti pohon dengan akar yang kuat, walaupun ditebang ia masih tetap bisa bertahan di tanah tempat ia berpijak. Pada akhirnya memang akan selalu terulang kembali, orang datang untuk menebang si pohon asam. Namun, ketegaran dan keteguhan hati si pohon akan selalu tinggal di setiap hati manusia. Keteguhan hati seorang wanita bisa menjadi suatu sumber pengharapan dan sumber penghiburan bagi orang lain. Karena dengan melihat ke bawah, melihat nasib si pohon yang tegar walaupun tertindas, manusia dapat belajar bersyukur akan dirinya sendiri karena ada yang jauh lebih menderita dari dirinya namun masih bisa tetap tegar. Manusia memperoleh penghiburan dan penguatan dari ketegaran si pohon. Demikian pula dengan ketegaran seorang wanita, seorang kekasih, seorang ibu yang selalu tegar walaupun selalu direndahkan, dilecehkan, dan disakiti. Dari cerpen Hikayat Siti Rahima dapat ditemukan suatu konsep yang ada dalam masyarakat, sistem patriarki yang membentuk konsep dalam pikiran seluruh anggota masyarakat kampung betawi di mana Siti Rahima tinggal, yaitu bahwa pria lebih berkuasa daripada wanita. Hal ini dengan jelas membuat para pria semakin merasa jauh lebih dominan, sedangkan wanita harus selalu mengalah dan menerima keadaannya yang inferior. Mengubah sistem yang sudah begitu mengakar di dalam tubuh masyarakat bukanlah hal yang mudah, bahkan kemungkinannya bisa dikatakan sangat kecil. Namun dari cerpen ini kita bisa melihat kenyataan bahwa wanita memang seringkali direndahkan dan ditindas akan tetapi ada suatu kekuatan yang dimiliki wanita dalam menghadapinya, wanita pasti bisa bertahan seperti Pohon Siti Rahima yang tetap berjuang untuk tumbuh kembali dengan kokoh di tengah lingkungan yang selalu berusaha menghancurkannya. Pembelajaran yang dapat diserap dari cerpen karya Zen Hae ini ialah bahwa selalu ditindas bukan berarti suatu kekalahan. Adanya keteguhan hati dan ketegaran dalam perjuangan untuk terus bertahan dalam menghadapi kenyataan lah yang justru menunjukan kekuatan seorang wanita atas sebuah sistem masyarakat, patriarki. Zen Hae (Nur Zain Hae) lahir di kembangan, Jakarta Barat, 12 April 1970. anak betawi ini lulus dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada 1994. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tinjauan sastra. Sejumlah puisinya sempat menjadi juara dan nominator lomba cipta puisi di beberapa kota di Indonesia. Pernah bekerja, sebagai wartawan dan bergiat di LSM. Kini sepenuhnya penulis lepas. Rumah kawin ini adalah buku ceritanya yang pertama. “ Zen Hae termasuk pengarang yang berhasil mendayagunakan kependekan : cerita pendek bukan lagi ringkasan dari risilah panjang, tetapi mikrokosmos di mana kita bisa bermain tangkap-dan-lari dengan tokoh. Pengarang bukan lagi tukang khotbah, tetapi benar-benar menjelma narator. Disitulah watak sadar diri maupun efek penjarakan membuat pembaca sebagai “pencipta kedua” yang ikut memperkaya atau melengkapkan kisah (Nirwan Dewanto). Berikut Pemaparan Mengenai Unsur Instrinsik yang Terdapat Pada Cerpen “ Hikayat Siti Rahima” Karya Zen Hae 1. Sinopsis Cerpen Seorang gadis yang sedang berputus asa, karena ia tidak lagi suci. Siti Rahima nama gadis itu mengandung benih dari seorang pria yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Akhirnya Siti Rahima diusir oleh keluarganya, karena telah mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat kampungnya. Dengan keputus asaan Siti Rahima berjalan mencari lelakinya itu. Tiba di sebuah tempat, di bawah sebuah pohon besar. Pohon asam, Siti Rahima duduk untuk sekedar beristirahat. Keesokan harinya, warga kampung menemukan Siti Rahima tanpa nyawa. Siti Rahima mati, masuk dan tumbuhnya menyatu ke dalam Pohon Asam 2. Tema Cerpen Menurut Brook dan Waren dalam Guntur (93:125) menyatakan tema adalah unsur atau makna suatu cerita atau novel. Sedangkan disatu sisi yang berbeda Brooks, Waren, dan Purser menyatakan tama adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu bentuk karya tulis. Tema merupakan gagasan pokok yang terdapat adalm sebuah wacana. Tema yang bisa diangkat dari Hikayat Siti Rahima adalah : “ Perjuangan seorang gadis dalam mempertahankan kisah hidupnya di dunia fana”. 3. Setting Cerpen sendiri adalah waktu, tempat, atau suasana yang terjadi dalam cerita. Setting kadangkala diangkat tidak jauh dari latar belakang penulis sebuah karya sastra, maksudnya sebagian besar setting dari sebuah karya sastra merupakan tempat dari pengalaman penulis yang sangat berkesan. Dalam Cerpen Hikayat Siti Rahima berlatar belakang setting di sebuah kampung dipinggiran kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta, “ Dulu aku manusia juga. Seorang perempuan. Tetapi, itu duli, sudah lama sekali. Jauh sebelum jalan lingkar luar ini dibangun oleh konsorsium kontraktor Jepang-Indonesia. Ketika sewah dan kebun sayur membujur, ke utara dan timur laut, mengikuti alaur sungai Kali Angke. Di sebelah timurnya, setelah hamparan sawah dan kebun sayur, rumah-rumah orang kampungku…” 4. Tokoh-Tokoh Cerpen Tokoh menempatkan urutan pertama dari setiap karya sastra. Tanpa adanya tokoh sebuah karya sastra tidak akan hidup. Tokoh merupakan orang-orang yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Setiap tokoh dalam novel memiliki karakter yang berbeda-beda. Penggambaran watak tokoh dalam novel sangat detail, sehingga pembaca bisa memilai ,masing-masing tokoh tersebut. (Bahasa Indonesia, Tim Pengembangan Kurikulum ; 10). tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Hikayat Siti Rahima yaitu : • Siti Rahima Seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Kembang kampung yang baru merasakan jatuh cinta kepada seorang konsorsium kontrkator jalan. Wanita tegar, yang lagi berputus asa dalam pencarian sang lelaki pujaan hati yang pergi entah ke mana. Wanita yang penuh gairah dan agresif. Wanita yang selal lapang dada menerima perlakuan dan takdir dari sang Kuasa. • Pria yang menjadi pacar Rahima ( seorang Konsorsium Kontrkator Jalan) Pria pekerja keras, pria yang tidak bertanggung jawab. Pria yang meninggalkan Siti Rahima setelah ia meraih hati dan tubuh gadis itu, sampai sang gadis mengandung benih cinta mereka. • Ayah Pria yang tegas, berwibawa, taat pada ajaran agamanya. Pria yang mengusir anaknya gadisnya karena telah mencoreng nama baik keluarga. • Ibu Seorang wanita yang lembut, lemah, wanita yang sangat taat pada suaminya. Dia tidak bisa menetang ayah, ketika beliau mengusir Rahima dari rumah. • Orang-orang kampung Orang-orang yang kurang mengecam pendidikan. Masih menganut sistem yang sangat tradisional. Masih percaya kepada yang namanya dukun dan percaya kepada mitos. Orang-orang kampung yang tidak bisa mengusir para konsorsium kontraktor yang telah merusak alam kampung mereka. 5. Alur yang Digunakan Dalam Cerpen Alur adalah struktur yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Guntur 1995:126). Artinya sebuah karya novel bergerak maju dari suatu permulaan (beginning), melalaui suatu pertengahan (middle), dan akhirnya menuju kesuatu akhir cerita (ending).alur dalam cerpen Hikayat Siti Rahima Yaitu alur maju. Dan diakhiri dengan pencarian tempat kehidupan oleh Rahima, agar dia dia bisa diterima di surga atau neraka. 6. Gaya Bahasa yang dipakai dalam Cerpen Sebuah gaya bahasa yang baik haruslah mengandung tiga unsur seperti berikut ini; Kejujuran, yaitu mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Sopan santun, yaitu memberi penghargaan atau menghormati orang yang di ajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Dan Menarik, yaitu gaya bahasa dikatakan menarik apabila bervariasi, memiliki humor yang sehat, pengertian yang baik, penuh dengan tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi). Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa, style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen Hikayat Siti Rahima adalah : Ø Anastrof/inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. “ Esok paginya orang-orang kampung ,menemukan tubuhku tergeletak kaku, dengan lidah yang terjulur di dalam gerowong pohon asam. Rahima bunuh diri, kata orang. Dibunuh orang, kata yang lain. Pendek kata, aku sudah mati. Tetapi arwahku tidak pergi dari pohon ini…” Ø Asidenton Adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari pasidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung. “ Pejamkan matamu, Tong. Matahari akan hilang. Hujan pertama akan datang. Tubuhku akan dingin, menggil, meliuk. Lidah-lidah air yang menjilati tubuhku, tanah dan pepohonan, adalah lidah para lelaki yang kehausan…” Ø Hiperbol, semacam gaya bahasa yang mengadung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal. “ namun, lelaki itu tidak hanya mengukur, mengeker, dan mencatat. Ia memindai percik api dimataku. Dam aku merasakan debur ombak di dadanya. Lalu sapaan, rayuan gombal. Ahai… jilatan lidah ombak pada pasir panas. Tubuh-tubuh bergetar. Menggelinjang. Desah panjang. Percik darah….” 7. Amanat yang Terdapat Dalam Cerpen Amanat yang disampaikan melalui cerpen Hikayat Siti Rahima adalah bahwa kita manusia jangan terlalu mengutamakan kehidupan dunia saja, apalagi yang bisa menjerumuskan kita kedalam dunia penuh dosam seperti free sexs. Kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Jangan mudah berputus asa, apaun masalah yang lagi kita hadapi. Sebab Tuhan tidak akan memberikan sebuah cobaan melebihi kemampuan umatnya. Yang paling penting kita tetap menjaga sopan sntun kita kepada kedua orang tua dengan menghormati mereka. 8. Amanat yang Cocok Untuk Cerpen Hikayat Siti Rahima adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap baik buruknya kualitas, nilai keberadaan sesuatu. Sedangkan kritik sastra ialah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap karya sastra (Tarigan 1993 : 188). Jadi secara sederhana, kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk, seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu. Pada cerpen ini Kritik yang dapat diangkat yaitu, kritik mitopoik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius dianta pendekatan-pendekatan kritik konterporer yang barang kali juga yang paling profokatif dalam tindakan-tindakan dan kemungkinannya. Kritikus mitopoik pun mendapatkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari hasil riset histories dan kuantitatifnya dalam mitos, menjadi petunjuk jalan yang telah hampir hilang dalam perjalan kritik ke dalam sastra. Cerpen Hikayat Siti Rahima mengangkat kritik tentang mitopoik, di dalam novel ini Zen Hae menceritakan tentang penduduk kampung yang masih memegang erat tentang mitos dalam kehidupan. “Akhirnya mereka panggil seorang lelaki tua bermisai panjang dan bermata picak. Di hari yang ditentukan, sang dukun membakar dupa dan membaca mantra di depan gerowong tubuhku. “ dut serudut ular kadut. Yang nyangkut ngoyor kelaut. Aer manek aer sagu. Setan Rahima jangan ngeganggu. Puh!” aku tertawa mendengarnya. Begitu kental mitos yang ada di kampung itu sehingga pohon itu dijadikan tempat sacral pemujaan.


Kata pengantar

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Ilahi  Robbi karena dengan limpahan taufik dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini kami haturkan banyak terimakasih yang tak terhingga,semoga amal yang baik senantiasa  mendapat ridho Alloh SWT.Amin....
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Kami mohon maaf apabila elum dapat memenuhi harapan teman-teman ataupun ibu bapak guru.
Oleh karena itu saran, kritik, serta masukan yang sifatnya membangun sanggat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Kami berharap makalah ini bermanfaat, khususnya bagi penyusun & umumnya bagi pembaca.


Tasikmalaya,23 Feb. 11
         Hormat kami

                                                                                                                     Penyusun















Hikayat Siti Rahima/ Zen Hae

Grahmyrda, Midterm Paper

            Bercocok tanam, melakukan berbagai pekerjaan rumah, menikah dengan pria yang telah ditentukan oleh orang tua, melahirkan, dan mengurus anak merupakan suatu kodrat bagi wanita, yang diyakini oleh masyarakat Betawi tradisional pada umumnya. Hal-hal di atas lah yang harus dilakukan oleh seorang wanita Betawi agar ia dapat diterima di dalam masyarakatnya. Apabila seorang wanita dianggap melanggar kodratnya, maka wanita itu akan dikucilkan dan dipandang rendah oleh seluruh anggota masyarakat. Demikian pula dengan nasib seorang gadis Betawi bernama Siti Rahima dalam cerita pendek Hikayat Siti Rahima karya Zen Hae yang bertemakan tentang seorang wanita yang harus menempati posisi inferior dalam sebuah struktur masyarakat; baik dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya sebagai akibat dari sistem norma dan kebudayaan yang sudah mendarah daging, namun bagaimanapun seorang wanita tetap bisa bertahan.
            Siti Rahima adalah seorang gadis betawi yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang dapat terlihat dengan jelas masih memegang teguh sistem patriarki di mana seorang pria memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dari wanita. Suatu ketika Siti Rahima menjalin cinta dengan seorang pemuda petugas pembangunan jalan lingkar. Namun pria yang dicintainya ini adalah seorang pendatang, bukan warga kampung dimana Siti Rahima tinggal, sehingga sang ayah melarang Siti Rahima berhubungan dengan pria itu. Dari hal ini dapat dilihat bahwa ada suatu kekuasaan lebih yang dimiliki sang ayah, sebagai seorang pria, untuk menentukan pasangan hidup bagi anak perempuannya; “lebih baik dengan orang kampung sendiri”(hal 69), kata sang ayah. Sistem yang dianut masyarakat ini menciptakan sebuah posisi inferior yang harus ditempati oleh wanita. Mengapa? Pertama-tama yaitu karena tidak ada kebebasan bagi seorang wanita untuk menentukan pasangan yang benar-benar ia cintai; kemudian seorang wanita dibatasi dan diatur untuk menikah hanya dengan pria dari ruang lingkup tertentu, yaitu yang berasal dari kampungnya sendiri. Dalam keluarga, yang merupakan pranata terkecil dalam masyarakat wanita sudah mengalami suatu alienasi terhadap dirinya, yaitu keterasingan atas kehendaknya sendiri. Siti Rahima sebagai wanita yang berada dalam komunitas masyarakat betawi tidak memiliki kehendak bebas, karena keputusan terhadap apa yang akan atau tidak akan ia lakukan tidak berdasarkan kehendaknya sendiri melainkan diatur oleh sang ayah (pria) yang mempunyai kekuasaan superior.
            Suatu hari Siti Rahima mengandung, namun kekasihnya pergi entah kemana. Ayahnya begitu murka dan malu hingga mengutuknya, “ Perempuan laknat. Kau telah menodai keluarga dan kampungmu sendiri. Empat puluh rumah pun ikut menanggung dosamu”(hal 69). Sang ayah menamparnya. Lalu ia bersama dengan orang-orang kampung lainnya mengusir Siti Rahima dari kampung; sang ibu hanya bisa menangis. Dari hal ini sekali lagi kita bisa menemukan suatu hubungan kekuasaan hierarkis, yakni ada satu hal/manusia/kelompok tertentu yang merasa memiliki status lebih tinggi dari yang lain; dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pria yang memegang kekuasaan tertinggi. Sang Ayah memiliki hak untuk mengusir Rahima dari rumah karena adanya rasa malu yang muncul dari dalam diri sang ayah. Menurut kebudayaan dan norma agama yang dianut masyarakat betawi saat itu, yang mayoritas memeluk agama Islam, seorang gadis yang hamil di luar pernikahan merupakan suatu perbuatan yang sangat tercela, aib bagi keluarga bahkan menodai seluruh kampung, karena itu sang ayah yang hanya mementingkan reputasinya segera mengusir Rahima. Di lain pihak, sang ibu sebagai wanita dengan posisi inferior dalam masyarakat Betawi saat itu tidak berhak untuk melarang atau mencegah keputusan sang ayah untuk mengusir Rahima dari rumah, sehingga ia hanya bisa menangis karena tidak bisa melakukan apa-apa dan demikian pula dengan Rahima yang hanya bisa pasrah menerima nasibnya.
            Ada masalah gender yang terungkap dalam hal ini, yaitu perbedaan antara sifat-sifat feminin dan maskulin. Menurut Betty Friedan,The Second Stage dalam Twentieth-Century Women Novelists (hal 37-38), sifat feminin dan maskulin memiliki dua cara berpikir yang berbeda, yaitu beta untuk feminin dan alpha untuk maskulin. Sang ibu diidentikan dengan cara berpikir beta yaitu synthesizing, intuitive, wanita dinilai lebih mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan. Apabila wanita memiliki kekuasaan yang lebih besar mungkin sang ibu tidak akan mengusir Rahima yang sedang mengandung; sedangkan ayah dengan cara berpikir alpha (analytical, rational,,,) langsung mengusir Rahima karena ia berpikir lebih kepada sebab-akibat yaitu rasa malu yang harus ditanggungnya ketimbang mengandalkan perasaannya terhadap Rahima sebagai anaknya yang sedang hamil. Ditambah lagi cara berpikir maskulin yang percaya akan adanya hubungan kekuasaan hierarkis dalam tubuh masyarakat Betawi saat itu sehingga pada akhirnya maskulinitas (ayah) menang, dan Siti Rahima harus pergi dari rumah.
            Pada akhirnya Siti Rahima mati dibunuh oleh pria yang telah menghamilinya, namun arwahnya masih mendiami pohon asam di mana ia meninggal, sehingga kemudian sifat feminin Rahima disimbolisasikan ke dalam wujud pohon asam tersebut. Rahima sebagai wanita yang hanya bisa pasrah menerima nasib diperbandingkan dengan sifat pohon asam yang hanya bisa diam dengan akarnya yang menancap di tanah dan hanya bisa diam diperlakukan seperti apapun oleh alam maupun orang-orang di sekitarnya. Namun, Saat ada seorang bocah yang datang berteduh, sifat keibuan yang mencirikan sifat feminin muncul, yaitu sifat yang ingin senantiasa melindungi anaknya. “Tetapi kau, buah hatiku, tidurlah”(hal 71). Walaupun “tubuhku akan dingin, menggigil, meliuk”(hal 71) si pohon diberi sifat feminin yang terus berusaha meneduhkan anaknya meskipun si pohon sendiri harus menderita. Sifat keibuan ini sendiri sebenarnya merupakan suatu hasil dari pemikiran komunitas patriarki di mana ibu adalah orang utama yang harus selalu melindungi dan menjaga anaknya.
            Pada suatu hari, akhirnya Pohon yang didiami Rahima akan segera ditebang. “Lalu chinsaw menderu. Gigi-gigi besi tajam berputar cepat. ,,, Gigi-gigi besi tajam itu mulai menyentuh dan merobek kulitku. Dagingku yang dulu. Merah. Perih.”(hal 72) Hierarchal relationships of authority kembali muncul. Kali ini chinsaw yang diberikan sifat maskulin yaitu kuat, berkuasa, dan kasar menempatkan posisi yang lebih berkuasa atas si pohon dengan sifat femininnya yang harus berada dalam posisi di bawah, yaitu sebagai yang tersakiti, terluka dan tak berdaya. Setting masyarakat tradisional Betawi serta modernitas yang mulai hadir dan mengancam kebudayaan tradisional (dapat dilihat di dua paragraf pertama, yaitu adanya pembangunan jalan lingkar luar) tersebut juga merupakan salah satu makna atau simbol yang dapat ditarik dari dalam cerpen ini. Pohon Rahima (wanita) yang tertindas menyimbolkan masyarakat tradisional yang mulai tersisihkan/tergusur oleh modernitas (misalnya chinsaw tadi sebagai simbol) sebagai pihak superior yang kuat dan berkuasa. Pohon Rahima (wanita) merupakan pihak yang tersingkirkan (ditebang) sama seperti masyarakat Betawi yang lemah dan mulai tergusur wilayahnya dengan adanya modernitas dan orang-orangnya yang “tamak dan angkuh” (hal 73) yang mulai mengambil lahan masyarakat Betawi untuk dijadikan “jejeran rumah mewah dengan jalan-jalan bercecabang,, di atas hamparan kebun sayur” (hal 73) milik masyarakat Betawi.
            Namun, keesokan hari setelah Pohon Rahima ditebang, suatu keajaiban yang menggemparkan semua orang terjadi. Si pohon tumbuh kembali sama seperti keadaannya semula. Orang-orang begitu takjub hingga memagari pohon itu bahkan ada yang melemparkan uangnya sebagai tanda hormat atau simpati kepada si pohon. Ada sebuah kekuatan misterius dalam diri si pohon asam sehingga ia bisa tumbuh kembali seperti semula dan dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada hal serupa yang dimiliki oleh seorang wanita. Wanita memiliki sebuah kekuatan misterius; walaupun sudah disakiti, dilukai, dan ditindas, seorang wanita dapat dengan cepat membangun kekuatan baru sehingga ia dapat segera pulih dari lukanya. Walaupun wanita menempati posisi yang rendah dalam struktur masyarakat, pada dasarnya wanita memiliki suatu kekuatan misterius, yaitu ketegaran dan keteguhan hati sehingga dapat terus bertahan menjalani hidupnya seperti pohon dengan akar yang kuat, walaupun ditebang ia masih tetap bisa bertahan di tanah tempat ia berpijak.
            Pada akhirnya memang akan selalu terulang kembali, orang datang untuk menebang si pohon asam. Namun, ketegaran dan keteguhan hati si pohon akan selalu tinggal di setiap hati manusia. Keteguhan hati seorang wanita bisa menjadi suatu sumber pengharapan dan sumber penghiburan bagi orang lain. Karena dengan melihat ke bawah, melihat nasib si pohon yang tegar walaupun tertindas, manusia dapat belajar bersyukur akan dirinya sendiri karena ada yang jauh lebih menderita dari dirinya namun masih bisa tetap tegar. Manusia memperoleh penghiburan dan penguatan dari ketegaran si pohon. Demikian pula dengan ketegaran seorang wanita, seorang kekasih, seorang ibu yang selalu tegar walaupun selalu direndahkan, dilecehkan, dan disakiti.
            Dari cerpen Hikayat Siti Rahima dapat ditemukan suatu konsep yang ada dalam masyarakat, sistem patriarki yang membentuk konsep dalam pikiran seluruh anggota masyarakat kampung betawi di mana Siti Rahima tinggal, yaitu bahwa pria lebih berkuasa daripada wanita. Hal ini dengan jelas membuat para pria semakin merasa jauh lebih dominan, sedangkan wanita harus selalu mengalah dan menerima keadaannya yang inferior. Mengubah sistem yang sudah begitu mengakar di dalam tubuh masyarakat bukanlah hal yang mudah, bahkan kemungkinannya bisa dikatakan sangat kecil. Namun dari cerpen ini kita bisa melihat kenyataan bahwa wanita memang seringkali direndahkan dan ditindas akan tetapi ada suatu kekuatan yang dimiliki wanita dalam menghadapinya, wanita pasti bisa bertahan seperti Pohon Siti Rahima yang tetap berjuang untuk tumbuh kembali dengan kokoh di tengah lingkungan yang selalu berusaha menghancurkannya. Pembelajaran yang dapat diserap dari cerpen karya Zen Hae ini ialah bahwa selalu ditindas bukan berarti suatu kekalahan. Adanya keteguhan hati dan ketegaran dalam perjuangan untuk terus bertahan dalam menghadapi kenyataan lah yang justru menunjukan kekuatan seorang wanita atas sebuah sistem masyarakat, patriarki.

















satrawan
Zen Hae (Nur Zain Hae) lahir di kembangan, Jakarta Barat, 12 April 1970. anak betawi ini lulus dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada 1994. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tinjauan sastra. Sejumlah puisinya sempat menjadi juara dan nominator lomba cipta puisi di beberapa kota di Indonesia. Pernah bekerja, sebagai wartawan dan bergiat di LSM. Kini sepenuhnya penulis lepas. Rumah kawin ini adalah buku ceritanya yang pertama. “ Zen Hae termasuk pengarang yang berhasil mendayagunakan kependekan : cerita pendek bukan lagi ringkasan dari risilah panjang, tetapi mikrokosmos di mana kita bisa bermain tangkap-dan-lari dengan tokoh. Pengarang bukan lagi tukang khotbah, tetapi benar-benar menjelma narator. Disitulah watak sadar diri maupun efek penjarakan membuat pembaca sebagai “pencipta kedua” yang ikut memperkaya atau melengkapkan kisah (Nirwan Dewanto).

Berikut Pemaparan Mengenai Unsur Instrinsik yang Terdapat Pada Cerpen “ Hikayat Siti Rahima” Karya Zen Hae

1. Sinopsis Cerpen

Seorang gadis yang sedang berputus asa, karena ia tidak lagi suci. Siti Rahima nama gadis itu mengandung benih dari seorang pria yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Akhirnya Siti Rahima diusir oleh keluarganya, karena telah mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat kampungnya. Dengan keputus asaan Siti Rahima berjalan mencari lelakinya itu. Tiba di sebuah tempat, di bawah sebuah pohon besar. Pohon asam, Siti Rahima duduk untuk sekedar beristirahat. Keesokan harinya, warga kampung menemukan Siti Rahima tanpa nyawa. Siti Rahima mati, masuk dan tumbuhnya menyatu ke dalam Pohon Asam

2. Tema Cerpen

Menurut Brook dan Waren dalam Guntur (93:125) menyatakan tema adalah unsur atau makna suatu cerita atau novel. Sedangkan disatu sisi yang berbeda Brooks, Waren, dan Purser menyatakan tama adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu bentuk karya tulis. Tema merupakan gagasan pokok yang terdapat adalm sebuah wacana. Tema yang bisa diangkat dari Hikayat Siti Rahima adalah : “ Perjuangan seorang gadis dalam mempertahankan kisah hidupnya di dunia fana”.

3. Setting Cerpen

sendiri adalah waktu, tempat, atau suasana yang terjadi dalam cerita. Setting kadangkala diangkat tidak jauh dari latar belakang penulis sebuah karya sastra, maksudnya sebagian besar setting dari sebuah karya sastra merupakan tempat dari pengalaman penulis yang sangat berkesan. Dalam Cerpen Hikayat Siti Rahima berlatar belakang setting di sebuah kampung dipinggiran kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta,

“ Dulu aku manusia juga. Seorang perempuan. Tetapi, itu duli, sudah lama sekali. Jauh sebelum jalan lingkar luar ini dibangun oleh konsorsium kontraktor Jepang-Indonesia. Ketika sewah dan kebun sayur membujur, ke utara dan timur laut, mengikuti alaur sungai Kali Angke. Di sebelah timurnya, setelah hamparan sawah dan kebun sayur, rumah-rumah orang kampungku…”

4. Tokoh-Tokoh Cerpen

Tokoh menempatkan urutan pertama dari setiap karya sastra. Tanpa adanya tokoh sebuah karya sastra tidak akan hidup.

Tokoh merupakan orang-orang yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Setiap tokoh dalam novel memiliki karakter yang berbeda-beda. Penggambaran watak tokoh dalam novel sangat detail, sehingga pembaca bisa memilai ,masing-masing tokoh tersebut. (Bahasa Indonesia, Tim Pengembangan Kurikulum ; 10). tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Hikayat Siti Rahima yaitu :

· Siti Rahima

Seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Kembang kampung yang baru merasakan jatuh cinta kepada seorang konsorsium kontrkator jalan. Wanita tegar, yang lagi berputus asa dalam pencarian sang lelaki pujaan hati yang pergi entah ke mana. Wanita yang penuh gairah dan agresif. Wanita yang selal lapang dada menerima perlakuan dan takdir dari sang Kuasa.

· Pria yang menjadi pacar Rahima ( seorang Konsorsium Kontrkator Jalan)

Pria pekerja keras, pria yang tidak bertanggung jawab. Pria yang meninggalkan Siti Rahima setelah ia meraih hati dan tubuh gadis itu, sampai sang gadis mengandung benih cinta mereka.

· Ayah

Pria yang tegas, berwibawa, taat pada ajaran agamanya. Pria yang mengusir anaknya gadisnya karena telah mencoreng nama baik keluarga.

· Ibu

Seorang wanita yang lembut, lemah, wanita yang sangat taat pada suaminya. Dia tidak bisa menetang ayah, ketika beliau mengusir Rahima dari rumah.

· Orang-orang kampung

Orang-orang yang kurang mengecam pendidikan. Masih menganut sistem yang sangat tradisional. Masih percaya kepada yang namanya dukun dan percaya kepada mitos. Orang-orang kampung yang tidak bisa mengusir para konsorsium kontraktor yang telah merusak alam kampung mereka.

5. Alur yang Digunakan Dalam Cerpen

Alur adalah struktur yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Guntur 1995:126). Artinya sebuah karya novel bergerak maju dari suatu permulaan (beginning), melalaui suatu pertengahan (middle), dan akhirnya menuju kesuatu akhir cerita (ending).alur dalam cerpen Hikayat Siti Rahima Yaitu alur maju. Dan diakhiri dengan pencarian tempat kehidupan oleh Rahima, agar dia dia bisa diterima di surga atau neraka.

6. Gaya Bahasa yang dipakai dalam Cerpen

Sebuah gaya bahasa yang baik haruslah mengandung tiga unsur seperti berikut ini; Kejujuran, yaitu mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Sopan santun, yaitu memberi penghargaan atau menghormati orang yang di ajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Dan Menarik, yaitu gaya bahasa dikatakan menarik apabila bervariasi, memiliki humor yang sehat, pengertian yang baik, penuh dengan tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi). Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa, style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen Hikayat Siti Rahima adalah :

Ø Anastrof/inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.

“ Esok paginya orang-orang kampung ,menemukan tubuhku tergeletak kaku, dengan lidah yang terjulur di dalam gerowong pohon asam. Rahima bunuh diri, kata orang. Dibunuh orang, kata yang lain. Pendek kata, aku sudah mati. Tetapi arwahku tidak pergi dari pohon ini…”

Ø Asidenton Adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari pasidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.

“ Pejamkan matamu, Tong. Matahari akan hilang. Hujan pertama akan datang. Tubuhku akan dingin, menggil, meliuk. Lidah-lidah air yang menjilati tubuhku, tanah dan pepohonan, adalah lidah para lelaki yang kehausan…”

Ø Hiperbol, semacam gaya bahasa yang mengadung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal.

“ namun, lelaki itu tidak hanya mengukur, mengeker, dan mencatat. Ia memindai percik api dimataku. Dam aku merasakan debur ombak di dadanya. Lalu sapaan, rayuan gombal. Ahai… jilatan lidah ombak pada pasir panas. Tubuh-tubuh bergetar. Menggelinjang. Desah panjang. Percik darah….”

7. Amanat yang Terdapat Dalam Cerpen

Amanat yang disampaikan melalui cerpen Hikayat Siti Rahima adalah bahwa kita manusia jangan terlalu mengutamakan kehidupan dunia saja, apalagi yang bisa menjerumuskan kita kedalam dunia penuh dosam seperti free sexs. Kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Jangan mudah berputus asa, apaun masalah yang lagi kita hadapi. Sebab Tuhan tidak akan memberikan sebuah cobaan melebihi kemampuan umatnya. Yang paling penting kita tetap menjaga sopan sntun kita kepada kedua orang tua dengan menghormati mereka.

8.
Amanat yang Cocok Untuk Cerpen Hikayat Siti Rahima


adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap baik buruknya kualitas, nilai keberadaan sesuatu. Sedangkan kritik sastra ialah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap karya sastra (Tarigan 1993 : 188). Jadi secara sederhana, kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk, seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu. Pada cerpen ini Kritik yang dapat diangkat yaitu, kritik mitopoik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius dianta pendekatan-pendekatan kritik konterporer yang barang kali juga yang paling profokatif dalam tindakan-tindakan dan kemungkinannya. Kritikus mitopoik pun mendapatkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari hasil riset histories dan kuantitatifnya dalam mitos, menjadi petunjuk jalan yang telah hampir hilang dalam perjalan kritik ke dalam sastra. Cerpen Hikayat Siti Rahima mengangkat kritik tentang mitopoik, di dalam novel ini Zen Hae menceritakan tentang penduduk kampung yang masih memegang erat tentang mitos dalam kehidupan. “Akhirnya mereka panggil seorang lelaki tua bermisai panjang dan bermata picak. Di hari yang ditentukan, sang dukun membakar dupa dan membaca mantra di depan gerowong tubuhku. “ dut serudut ular kadut. Yang nyangkut ngoyor kelaut. Aer manek aer sagu. Setan Rahima jangan ngeganggu. Puh!” aku tertawa mendengarnya. Begitu kental mitos yang ada di kampung itu sehingga pohon itu dijadikan tempat sacral pemujaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar